Tag Archives: Proteksi penyakit kritis

Berapa Biaya Penyakit Kritis? Berkaca dari Pengalaman Para Artis

5 artis yang pernah mengalami penyakit kritis: Chrisye, Franky, Gugun Gondrong, Jupe, Olga

Berapa sebenarnya biaya pengobatan penyakit kritis seperti kanker, jantung, stroke, dan gagal ginjal?

Tergantung penyakitnya apa, seberapa parah kondisinya, dan di rumah sakit apa berobatnya. Tapi yang pasti sangat besar, bahkan bisa bikin bangkrut. Selain itu, penyakit kritis bisa mengurangi produktivitas sehingga penghasilan pun berkurang bahkan hilang.

Jika melihat pengalaman para artis terkenal yang pernah mengalami penyakit kritis, biayanya ternyata bisa sampai miliaran. Bahkan banyak di antaranya yang mengalami kebangkrutan. Padahal sebagai artis terkenal dengan bayaran yang mahal, mereka mestinya banyak uang. Tapi uang yang banyak itu pun ternyata masih kurang.

Disclaimer On: Mohon maaf kepada para artis yang namanya disebutkan di sini. Saya tidak bermaksud buruk, hanya untuk ambil hikmahnya saja (penulis/admin).  Baca lebih lanjut

Iklan

Tapro Family, Proteksi Asuransi Terbaik dari Allianz untuk Keluarga Anda

keep calm taproTapro Family adalah program asuransi jiwa keluarga dari Allianz yang berguna sebagai proteksi penghasilan untuk seluruh anggota keluarga dengan cara memberikan bantuan finansial  kepada seluruh anggota keluarga, terutama Ayah dan Ibu sebagai orang tua sekaligus pencari nafkah, jika diantara mereka ada yang terdiagnosa sakit kritis, cacat tetap permanen, kecelakaan, atau meninggal dunia.

Keuntungan di Tapro Family ini adalah memberikan pembebasan premi jika salah satu dari orang tua, Ayah atau Ibu terkena musibah penyakit kritis atau cacat tetap total atau meninggal dunia.

Jika hal tersebut dialami oleh keluarga tersebut maka Allianz yang akan menanggung pembayaran premi yang seharusnya dibayarkan oleh Ayah/Ibu sebagai pencari nafkah untuk kelangsungan hidup keluarga tersebut sampai dengan umur Ayah/Ibu mencapai usia 65 tahun. Serta Allianz mengeluarkan santunan Uang Pertanggungan sesuai dengan polis asuransi mereka. Jadi antar polis yang dimiliki masing-masing anggota keluarga saling berkait dan saling melindungi.

Ilustrasi dari manfaat Tapro Family ini, bisa disimak dari cerita berikut. Baca lebih lanjut

Analisis Perkiraan Biaya Perawatan Olga Syahputra Selama Di Singapura

olga syahputra panasonic awardInnalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kabar duka kembali menyelimuti dunia hiburan di tanah air. Pembawa acara dan artis komedi Olga Syahputra menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Mount Elizabeth di Singapura pada hari Jumat (27 Maret 2015) sore waktu setempat. Olga meninggal dunia dalam usia 32 tahun. Usia yang masih termasuk sangat muda dan produktif. Diduga Olga meninggal dunia karena penyakit meningitis atau radang selaput otak  yang dideritanya sejak Juni 2014. Sejak saat itu, Olga dirawat secara intensif di rumah sakit Mount Elizabeth di Singapura sampai akhir hayatnya.

Salah satu yang menjadi pertanyaan adalah berapa besar biaya yang dikeluarkan keluarga selebriti itu selama perawatan di Singapura? Pertanyaan itu banyak bermunculan seiring dengan naiknya kesadaran masyarakat kelas menengah tentang risiko finansial yang dihadapi ketika seseorang menghadapi kondisi kritis. Pertanyaan itu banyak bermunculan seiring dengan naiknya kesadaran masyarakat kelas menengah tentang risiko finansial yang dihadapi ketika seseorang menghadapi kondisi kritis.

Selama ini, kabar tentang Olga dirawat di Singapura tidak terlalu banyak diketahui, termasuk mulai tanggal berapa komedian itu dirawat di RS Mount Elizabeth, Singapura. Namun jika ditelusuri dari berbagai sumber, Olga mulai dirawat di Singapura pada awal Mei 2014. Dan pada artikel ini saya akan coba analisis perkiraan biaya yang dikeluarkan oleh almarhum Olga dan keluarganya, dengan referensi tarif kamar dan ICU yang saya peroleh dari situs Mount Elizabeth Hospital dan beberapa sumber lainnya. Baca lebih lanjut

Proteksi Penyakit Kritis. Perlukah?

Penyakit KritisCobalah sesekali tanya orang yang sekarang terkena stroke, apakah sebelumnya dia pernah menyangka akan terkena stroke?

Atau tanyalah orang yang sekarang harus menjalani cuci darah tiap minggu, apakah dulu ia pernah mengira akan mengalami gagal ginjal?

Ya, terkadang penyakit kritis datang seperti kecelakaan lalu lintas. Tiba-tiba dan tidak diduga. Vonis dokter terdengar seperti hantaman palu godam. Ya, karena yang bersangkutan mungkin merasa selama ini baik-baik saja. Ia ngantor tiap hari, bergaul dengan teman-temannya, bercengkrama dengan keluarganya, bahkan berolahraga secara rutin.

Penyakit kritis sebetulnya bisa dicegah. Tapi sebaik apa pun usaha kita, di zaman sekarang ini peluang keberhasilannya tidak akan 100 persen. Kita menerapkan gaya hidup sehat, lingkungan kita belum tentu mendukung. Setiap hari kita makan beraneka ragam hidangan dengan kandungan yang bermacam-macam, bergaul dengan teman-teman yang merokok, menghirup polusi udara, terjebak stres di perjalanan, terpapar sinar ultraviolet dari matahari, dan sebagainya. Semua itu terakumulasi sedikit demi sedikit dalam tubuh kita, dan masing-masing menyumbang peran bagi menurunnya tingkat kesehatan kita. Bisa jadi ujungnya adalah penyakit kritis yang kita tidak sangka-sangka itu. Bisa jadi juga tidak. Tapi satu yang patut disadari, munculnya salah satu dari penyakit kritis bukanlah hal yang mustahil.

“Saya sudah punya askes dari kantor.” Baca lebih lanjut

5 Hal Penting yang Bisa Hilang dari Hidup Manusia (Sebuah Ilustrasi)

Gugun GondrongTidak ada orang yang rela uangnya hilang. Tapi jika salah langkah, ada lima hal penting yang bisa hilang dari hidup manusia.

Apakah itu?

  1. Tabungan/investasi
  2. Harta
  3. Harga diri
  4. Penghasilan
  5. Impian

Bagaimana lima hal itu bisa hilang? Silakan lihat ilustrasi berikut.

Ilustrasi

Ada seorang kepala keluarga usia 30-an tahun, kita sebut saja Tuan X. Tuan X memiliki asuransi jiwa murni yang menanggung risiko meninggal dunia dengan UP jiwa 1 miliar. Dia juga mengambil rider kesehatan untuk diri dan keluarganya, plan kamar 500rb per hari. Selain itu, dia pun rutin berinvestasi di reksadana sebesar 1 juta per bulan. Dia sudah melakukannya selama 5 tahun, dan kini uangnya hampir 100 juta.

Dari fakta ini, jelas bahwa Tuan X adalah seorang yang telah sadar berasuransi dan berinvestasi. Bahkan dipisah pula, sesuai saran para perencana keuangan.

Tapi ada satu yang dia lewatkan: proteksi penyakit kritis.

Pada suatu hari, Tuan X pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan migrain yang akhir-akhir ini kerap mendera kepalanya. Biasanya pakai obat warung pun selesai, tapi kali ini dia bersikap waspada dengan bertanya langsung ke dokter. Ketika dokter melakukan pemindaian pada kepalanya, tak dinyana, ternyata terdapat tumor sebesar bola pingpong di otaknya. Tumor tersebut telah membangun sarang di tempurung otaknya lebih dari 10 tahun, tanpa dia sadari. Biaya operasi untuk mengangkat tumor tersebut, kata dokter, antara 500 juta sd 1 miliar tergantung rumah sakitnya, dan lebih mahal lagi jika berobatnya di luar negeri.

Tuan X terkejut. Tak menyangka. (Jika anda pun tak menyangka bisa ada tumor sebesar itu tanpa disadari, contohnya dapat dibaca di sini: http://life.viva.co.id/news/read/272466-tumor-otak-sebesar-bola-bisbol).

Tapi tak ada pilihan lain. Jika tak segera dioperasi, nyawa Tuan X terancam.

Maka digunakanlah asuransi kesehatan yang dia miliki, tapi askes tersebut hanya mampu menanggung biaya operasi dan lain-lain tak sampai 100 juta.

Karena masih kurang, dia tariklah semua tabungan dan investasinya. Tapi ini pun hanya sanggup menambahi 100 juta.

Tabungan dan investasi hilang. Ini hilang yang pertama.

Tuan X punya sebuah mobil untuk keperluan sehari-hari ke tempat kerja. Mobil itu terpaksa dijual cepat, laku 100 juta.

Masih kurang. Tuan X pun terpaksa menjual rumahnya yang sebagian masih kredit, juga secara cepat. Laku 150 juta.

Sampai sini, tabungan hilang, harta pun hilang. Ini hilang yang kedua.

Operasi telah mulai dilakukan, tapi karena masih banyak kurangnya, keluarga Tuan X berusaha cari pinjaman sana-sini. Hasilnya tak seberapa, karena ketika sehat pun cari pinjaman itu susah, apalagi di saat sakit.

Di sini, yang hilang dari diri Tuan X adalah harga dirinya. Ini hilang yang ketiga.

Karena Tuan X menjalani operasi dengan dana yang tidak cukup dan tidak segera tersedia (butuh waktu untuk jual mobil dan rumah), maka dia tidak mendapatkan fasilitas terbaik untuk operasinya sehingga penanganan tumornya tidak berlangsung dengan sempurna. Nyawanya memang terselamatkan, tapi kondisinya tidak pulih seperti sediakala. Dia tidak bisa bekerja lagi seperti sebelumnya.

Karena tidak bisa bekerja, maka penghasilan pun hilang. Ini hilang yang keempat.

Biaya hidup tak bisa ditunda. Sang istri harus banting tulang menghidupi keluarga. Anak-anak gagal masuk sekolah favorit. Tak ada lagi rekreasi di masa liburan sekolah. Mimpi naik haji harus dikubur dalam-dalam. Pensiun harus diundur entah sampai kapan. Dan di hadapan Tuan X, jangan sekali-kali bicara soal masa depan.

Karena kini, segala impiannya telah hilang. Ini hilang yang kelima.

Demikianlah kisah Tuan X.

***

Sampai di sini, silakan tarik nafas sejenak sambil merenung:

Tuan X adalah seorang yang sadar berasuransi, tapi nyatanya dia masih bisa mengalami hal seperti itu.

Bagaimana jika orang tidak punya asuransi sama sekali? Yang semacam ini amatlah banyak di negeri kita.

Atau bagaimana jika orang punya asuransi dengan manfaat yang lengkap, tapi UP-nya kecil-kecil? Misalnya, UP penyakit kritisnya hanya 100 juta atau bahkan kurang? Yang seperti ini pun banyak sekali. Dan mereka ini masih berisiko kehilangan lima hal penting dalam hidup.

Bagaimana rasanya jika kelima hal penting tersebut hilang dari diri kita?

Sakit. Sedih. Stres. Dunia jungkir balik.

Jangankan kelimanya sekaligus, satu saja yang hilang, akan sangat terasa pedih-perihnya. Bahkan kehilangan satu hal kecil pun bisa bikin galau tidak karuan. Contoh, pernahkah anda kehilangan HP anda? Ingatkah anda bagaimana rasanya saat itu?

Hikmah

Cerita di atas memang hanya ilustrasi. Tapi ini gambaran yang realistis dan mungkin dialami manusia. Anda pun barangkali tahu atau pernah melihat contohnya. Misalnya, mohon maaf, Gugun Gondrong, artis yang diduga kena tumor otak pada tahun 2008. Dia bukan hanya kehilangan lima, melainkan enam hal penting dalam hidup. Yang terakhir adalah istrinya. (Anda bisa membaca beritanya di sini: http://www.berita8.com/berita/2010/05/lepas-dari-koma-gugun-gondrong-dicerai-istri–)

Hikmah yang bisa diambil:

  1. Punya asuransi jiwa dan kesehatan saja tidak cukup.
  2. Apalagi kalau tidak punya asuransi sama sekali.
  3. Ketika memutuskan berasuransi, berpikirlah untuk risiko yang paling buruk (baca: yang butuh biaya paling besar, yaitu penyakit kritis).
  4. Asuransi penyakit kritis adalah keniscayaan, bukan pilihan.
  5. Pada saat yang sama, UP penyakit kritis haruslah cukup besar. []