Tag Archives: Penyakit kritis

Dapatkan Asuransi Penyakit Kritis UP 1 Miliar Mulai 300 Ribu Per Bulan

Sebuah survei yang dimuat di Harian Kompas menyebutkan bahwa 85% pasien kanker dan keluarga bangkrut. Mengapa? Karena saking besarnya biaya untuk pengobatan dan perawatan kanker, bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Bahkan para artis terkenal yang sepertinya banyak uang pun tak kebal dari kebangkrutan ketika terpaksa harus mengalami penyakit berat semacam kanker dan penyakit kritis lainnya. Ada yang harus menggelar konser musik untuk menggalang sumbangan, ada yang harus menjual rumah dan mobil, ada yang sampai bercerai dengan pasangan, bahkan ada yang saldo ATM-nya tinggal 37 ribu (tidak bisa ditarik sama sekali), plus masih dikejar-kejar penagih utang. (Baca di SINI).

Jika para artis saja bisa bangkrut, bagaimana dengan kita?

Jangan lupa, dampak penyakit kritis bukan hanya soal biaya berobat di rumah sakit, tapi juga bisa mengurangi kemampuan bekerja. Jika ini terjadi pada pencari nafkah dalam keluarga, berarti keluarga tsb kehilangan sumber penghasilan.

Nah, jika besok atau lusa dokter mendiagnosa suatu penyakit yang butuh biaya ratusan juta sampai miliaran, siapkah kita dan keluarga kita?

Jika akibat penyakit berat tersebut membuat kita kehilangan produktivitas dan penghasilan, siapkah kita dan keluarga kita? 

Solusi: Asuransi Penyakit Kritis dari Tapro Allianz

Jika belum siap, jangan khawatir. Ada solusinya dari Allianz, penyedia asuransi penyakit kritis terbaik dan termurah di Indonesia, melindungi hingga 100 kondisi penyakit kritis sejak tahap awal sampai usia 100 tahun. Syaratnya, anda mengambil program ini selagi masih sehat dan punya uang.

Dengan program ini, anda tidak perlu merogoh uang 1 miliar saat dibutuhkan, tapi cukup dengan mencicil mulai sekarang premi 300 ribu per bulan (tergantung usia dan jenis kelamin), maka anda telah menyiapkan uang tunai untuk biaya penyakit kritis sebesar 1 miliar.

Ada dua produk asuransi penyakit kritis yang disarankan. Baca lebih lanjut

Iklan

Prepare for the Worst: Hilangnya Kemandirian Hidup

ketidakmampuan-totalPrepare for the worst (antisipasi dari yang terburuk), itulah hakikat asuransi. Di antara hal-hal buruk yang mungkin dialami manusia, ada satu yang paling buruk, yaitu hilangnya kemandirian hidup.

Hilangnya kemandirian hidup berarti ketidakmampuan melakukan beberapa aktivitas dasar manusia, yaitu:

  1. Menyuap (makan, minum)
  2. Mandi
  3. Berpakaian
  4. Beralih tempat
  5. Buang air

Ketidakmampuan melakukan sebagian atau seluruh aktivitas dasar tersebut berarti juga kehilangan kemampuan untuk bekerja mendapatkan penghasilan. Jika dia seorang karyawan, dalam waktu beberapa bulan atau maksimal satu tahun, dia harus rela diberhentikan, karena tidak ada perusahaan yang mau menggaji orang yang tidak menghasilkan. Jika dia seorang pekerja mandiri, tidak bisa bekerja lagi membuat penghasilannya otomatis berhenti. Hanya seorang pemilik bisnis besar atau investor besar dengan penghasilan pasif yang besarlah yang diperkirakan akan mampu menanggulangi masalah ini, tapi kebanyakan orang bukanlah pemilik bisnis besar dan bukan pula investor besar. Baca lebih lanjut

Rudiyanto: Lebih Prioritas Mana, Asuransi atau Investasi Reksa Dana?

Rudiyanto-New-199x300Pengantar

Rudiyanto adalah penulis Buku “Sukses Finansial dengan Reksa Dana” dan “Fit Focus Finish” yang diterbitkan oleh Elex Media. Head of Operation and Business Development Panin Asset Management. Rudiyanto juga merupakan anggota Kelompok Kerja (POKJA) Otoritas Jasa Keuangan untuk peningkatan Literasi Keuangan di Indonesia.  Blog: rudiyanto.blog.kontan.co.id

Pada artikel Bapak Rudiyanto di bawah ini, ada beberapa poin yang relevan dengan misi saya sebagai agen asuransi Allianz Life Indonesia.

1. Dicantumkannya asuransi penyakit kritis sebagai salah satu asuransi yang penting dimiliki, selain asuransi jiwa (warisan), kecelakaan, dan kesehatan. Ini sejalan dengan fokus Allianz pada proteksi penyakit kritis melalui produk rider CI+ dan CI100. Saya pun dalam berbagai artikel di blog ini, selalu menempatkan asuransi penyakit kritis sebagai asuransi yang sangat penting untuk dimiliki, seperti bisa dibaca pada artikel “Prioritas Asuransi“.

2. Asuransi (jiwa, penyakit kritis, kecelakaan, kesehatan) harus didahulukan daripada investasi. Bahkan jika pun produk asuransi yang dibeli adalah berjenis unit-link, tujuannya tetaplah untuk asuransi, bukan investasi.

3. Asuransi yang wajib dimiliki seorang pencari nafkah setidaknya ada 3: asuransi jiwa (warisan), asuransi penyakit kritis, dan asuransi kesehatan.

4. Kebanyakan orang yang bekerja di perusahaan sebetulnya sudah memiliki asuransi, minimal asuransi kesehatan. Dan bagi yang didaftarkan pada Jamsostek, berarti sudah pula memiliki asuransi jiwa dan kecelakaan. Bagi mereka yang merasa fasilitas asuransi dari kantor sudah mencukupi, berarti tinggal menambah asuransi penyakit kritis.

Silakan membaca selengkapnya artikel di bawah ini.

Oleh Rudiyanto
@rudiyanto_zh
Baca lebih lanjut

UP Asuransi Jiwa Saja Belum Cukup

Artikel berikut merupakan rangkaian dari artikel “Beberapa catatan tentang asuransi jiwa.” Selamat membaca 🙂

Ya, banyak orang yang merekomendasikan pemisahan asuransi dan investasi hanya menyebut termlife (asuransi jiwa berjangka) sebagai alternatif pengganti unit link. Padahal UP jiwa saja belum cukup, terutama bagi orang usia muda dan produktif (di bawah 50 tahun). Kenapa? Karena pada dasarnya orang muda itu tidak akan meninggal hanya karena faktor usia. Memang yang namanya mati itu tidak kenal umur. Tapi melihat usia harapan hidup orang Indonesia yang sekitar 65 tahun, maka jika orang meninggal jauh di bawah usia itu, besar kemungkinan penyebabnya adalah faktor lain.

Apa biasanya penyebab orang muda meninggal dunia? Pertama, kecelakaan. Kedua, sakit. Sakit macam-macam, bisa sakit kritis, penyakit menular, atau sekadar sakit perut.

Orang yang hanya mengambil asuransi jiwa berjangka, jika ia mengalami kecelakaan lalu mati, uang pertanggungan jiwa dapat langsung cair dan diterima ahli warisnya. Tapi jika kecelakaan itu tidak langsung mengirim dia ke alam lain, maka persoalan belum selesai. Jika ia cacat, tentunya UP jiwa tidak bisa keluar, tapi biaya hidup tetap jalan dan makin sulit karena orang cacat tidak akan bisa bekerja sebaik sebelumnya.

Begitu pula mengalami sakit kritis pun belum tentu bikin meninggal. Baca lebih lanjut

Mengenal Meningitis, Penyakit yang Diduga Diderita Olga

meningitis ilustrasiJakarta, CNN Indonesia — Kepergian komedian Olga Syahputra meninggalkan duka bagi semua sahabat, kerabat dan fans-fansnya. Tak ada yang menyangka Olga akan pergi, terutama setelah kondisinya dikabarkan membaik.

Sebelum meninggal, Olga memang sempat beberapa kali dirawat di rumah sakit. Terakhir, ia dirawat di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura. Olga didiagnosis menderita meningitis.

Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada membran pelindung yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang. Kesatuan kedua bagian ini disebabkan oleh meningen. Tak jarang penyakit ini bisa menyebabkan kematian karena peradangan di otak dan sumsum tulang belakang.

Gejala meningitis

Sama seperti jenis penyakit lainnya, meningitis juga menimbulkan berbagai gejala penyakit. Namun, penyakit ini seringkali memiliki gejala yang sama dengan penyakit lainnya. Gejala meningitis memiliki kemiripan dengan gejala sakit flu.

Gejala-gejala awal penyakit ini ditandai dengan sakit kepala yang hebat. Namun serangan sakit kepala ini berbeda dengan sakit kepala pada umumnya.  Dalam kasus penyakit yang diderita Olga, komedian ini memang sering terserang sakit kepala yang hebat. Dalam tayangan televisi yang mengabarkan berita sakitnya Olga beberapa waktu lalu, komedian ini bahkan sampai menangis saat tak sanggup menahan sakit di kepalanya. Baca lebih lanjut