Tag Archives: Kecelakaan

Prepare for the Worst: Hilangnya Kemandirian Hidup

ketidakmampuan-totalPrepare for the worst (antisipasi dari yang terburuk), itulah hakikat asuransi. Di antara hal-hal buruk yang mungkin dialami manusia, ada satu yang paling buruk, yaitu hilangnya kemandirian hidup.

Hilangnya kemandirian hidup berarti ketidakmampuan melakukan beberapa aktivitas dasar manusia, yaitu:

  1. Menyuap (makan, minum)
  2. Mandi
  3. Berpakaian
  4. Beralih tempat
  5. Buang air

Ketidakmampuan melakukan sebagian atau seluruh aktivitas dasar tersebut berarti juga kehilangan kemampuan untuk bekerja mendapatkan penghasilan. Jika dia seorang karyawan, dalam waktu beberapa bulan atau maksimal satu tahun, dia harus rela diberhentikan, karena tidak ada perusahaan yang mau menggaji orang yang tidak menghasilkan. Jika dia seorang pekerja mandiri, tidak bisa bekerja lagi membuat penghasilannya otomatis berhenti. Hanya seorang pemilik bisnis besar atau investor besar dengan penghasilan pasif yang besarlah yang diperkirakan akan mampu menanggulangi masalah ini, tapi kebanyakan orang bukanlah pemilik bisnis besar dan bukan pula investor besar. Baca lebih lanjut

Iklan

UP Asuransi Jiwa Saja Belum Cukup

Artikel berikut merupakan rangkaian dari artikel “Beberapa catatan tentang asuransi jiwa.” Selamat membaca 🙂

Ya, banyak orang yang merekomendasikan pemisahan asuransi dan investasi hanya menyebut termlife (asuransi jiwa berjangka) sebagai alternatif pengganti unit link. Padahal UP jiwa saja belum cukup, terutama bagi orang usia muda dan produktif (di bawah 50 tahun). Kenapa? Karena pada dasarnya orang muda itu tidak akan meninggal hanya karena faktor usia. Memang yang namanya mati itu tidak kenal umur. Tapi melihat usia harapan hidup orang Indonesia yang sekitar 65 tahun, maka jika orang meninggal jauh di bawah usia itu, besar kemungkinan penyebabnya adalah faktor lain.

Apa biasanya penyebab orang muda meninggal dunia? Pertama, kecelakaan. Kedua, sakit. Sakit macam-macam, bisa sakit kritis, penyakit menular, atau sekadar sakit perut.

Orang yang hanya mengambil asuransi jiwa berjangka, jika ia mengalami kecelakaan lalu mati, uang pertanggungan jiwa dapat langsung cair dan diterima ahli warisnya. Tapi jika kecelakaan itu tidak langsung mengirim dia ke alam lain, maka persoalan belum selesai. Jika ia cacat, tentunya UP jiwa tidak bisa keluar, tapi biaya hidup tetap jalan dan makin sulit karena orang cacat tidak akan bisa bekerja sebaik sebelumnya.

Begitu pula mengalami sakit kritis pun belum tentu bikin meninggal. Baca lebih lanjut

Beberapa Catatan Tentang Asuransi Jiwa

Dari banyak artikel yang tersebar di internet mengenai pengalaman mencari asuransi termlife. Hampir sebagian besar berencana mengambil term life yang berjangka 20 tahun, bisa diperpanjang, plus rider bebas premi. Jadi manfaat yang diperoleh adalah proteksi jiwa dan pembebasan premi jika terkena sakit kritis/cacat total. Rata-rata tidak mengambil rider proteksi kecelakaan (ADD; Accident Death and Disability) dan penyakit kritis (CI; Critical Illness), dengan alasan akan berhati-hati dan berusaha menjaga kesehatan.

Saya pribadi sangat apresiatif terhadap fenomena ini. Saking apresiatifnya, saya menuliskan catatan ini.

Pertama, mengambil fitur bebas premi (waiver of premium) tapi tidak memproteksi diri dari penyebab bebas premi menunjukkan cara berpikir yang ganjil. Penyebab bebas premi dalam asuransi tersebut adalah sakit kritis dan atau cacat total. Dengan ditambahkannya rider tersebut, artinya kebanyakan orang menyadari bahwa kejadian sakit kritis atau cacat total mungkin terjadi pada dirinya. Namun anehnya, tidak melanjutkan kesadaran itu dengan memproteksi diri dari resiko-resiko yang mungkin terjadi tersebut. Baca lebih lanjut

Perencanaan Keuangan untuk Keluarga Muda

keluarga mudaTiga Cita-cita

Keluarga muda adalah pasangan suami istri dengan satu atau dua anak yang masih kecil. Dengan karier yang umumnya sedang menanjak, mereka memerlukan suatu perencanaan keuangan yang komprehensif, karena “tugas keuangan” mereka masih banyak dan masih lama waktunya. Selain memenuhi biaya hidup sehari-hari untuk keluarga, ada sejumlah kebutuhan jangka panjang yang perlu dipersiapkan sejak dini. Setidaknya ada tiga momentum yang menanti mereka di masa depan:

  1. Pendidikan anak
  2. Perjalanan ibadah haji
  3. Masa pensiun

Pendidikan anak adalah sesuatu yang niscaya, dan mendidik anak merupakan kewajiban orangtua. Waktu terbaik mempersiapkan dana pendidikan anak adalah sedini mungkin, kalau perlu sejak anak masih dalam kandungan, karena semakin awal akan semakin murah cicilannya.

Ibadah haji merupakan kewajiban setiap muslim. Memang kewajiban ini hanya diperuntukkan bagi yang mampu. Tapi jika kita punya waktu yang cukup untuk bersiap-siap, saya yakin berangkat haji itu hanya masalah kemauan dan niat.

Masa pensiun juga akan dijalani oleh setiap orang yang dikaruniai usia normal. Setiap kita tentu tidak mau terus bekerja mencari uang seumur hidup. Cape dech. Tapi jika kita abai dengan persiapan yang satu ini, bukan tidak mungkin sampai usia senja pun kita masih harus bekerja. Ingat, dana pensiun bukan hanya monopoli kaum PNS. Setiap orang berhak dan bisa mempersiapkan sendiri dana pensiunnya.

Selain yang tiga itu, tentu masih ada sejumlah cita-cita yang ingin diraih keluarga muda. Tiap orang bisa berbeda. Yang lazim misalnya punya rumah dan kendaraan dan barang-barang lain. Tapi kenapa rumah dan kendaraan tidak saya sebut, karena tanpa diingatkan pun orang sudah akan mengusahakan memperolehnya, minimal dengan cara mencicil. Sedangkan tiga cita-cita di atas kerapkali diabaikan meski sebetulnya juga bisa dicicil, yakni sejak sekarang. Baca lebih lanjut