Mengenal Prinsip Asuransi Syariah

Asuransi syariah mulai dikenal di tanah air sejak tahun 1994 dengan berdirinya sebuah perusahaan asuransi syariah pertama. Ketika asuransi syariah hadir, maka sebutan bagi asuransi yang tidak sesuai syariah justru dibubuhi tambahan “konvensional”. Di perjalanannya selama lebih 20 tahun di tanah air, asuransi syariah telah menunjukkan perkembangan yang luar biasa dan berhasil mengambil hati sebagian masyarakat Indonesia. Namun tidak dapat dipungkiri, masih banyak di antara kita yang belum memahami asuransi syariah itu sendiri.

Untuk tulisan kali ini, penulis membahas hal pertama dan utama, yang menyebabkan asuransi konvensional tidak sesuai syariah, yaitu riba. Secara harfiah, riba artinya “pertambahan nilai”. Apabila dalam sebuah transaksi terjadi pertambahan nilai, maka hal tersebut masuk dalam kategori riba. Riba sendiri dilarang bagi para pemeluk berbagai agama (baik bagi umat Muslim, Nasrani maupun Yahudi).

Berikut adalah ilustrasi mekanisme asuransi konvensional.

EHN - MEKANISME ASURANSI KONVENSIONAL

Dari ilustrasi di atas, bisa kita lihat dalam asuransi konvensional, Tertanggung hanya berurusan dengan perusahaan asuransi konvensional. Tertanggung mempunyai perikatan berupa kontrak asuransi dengan perusahaan asuransi konvensional. Tertanggung tidak berhubungan dengan Tertanggung lainnya. Kontrak transaksional hanya terjadi antara Tertanggung dengan perusahaan asuransi konvensional.

Tertanggung selaku pemilik risiko, mengalihkan risiko (risk transfer) yang dimilikinya kepada perusahaan asuransi konvensional. Sebagai gantinya, Tertanggung membayar premi sesuai dengan besaran yang disepakati. Premi yang terkumpul dari seluruh Tertanggung, sepenuhnya menjadi milik perusahaan asuransi konvensional sepenuhnya. Penggunaan dana milik perusahaan tentunya sesuai dengan keinginan pemilik perusahaan. Ketika terjadi musibah, Tertanggung yang menderita kerugian, mendapatkan ganti rugi (klaim) dari dana milik perusahaan asuransi konvensional.

Semisal, seorang tertanggung yang mengalihkan risiko atas gedung miliknya senilai Rp.1 milyar kepada perusahaan asuransi konvensional, untuk itu ia membayar premi, misalnya Rp.1 juta. Apabila terjadi risiko kebakaran dan tertanggung menderita kerugian, maka perusahaan asuransi akan membayarkan ganti rugi (klaim) sebesar nilai kerugiannya, sebut saja Rp.1 milyar. Secara matematis, tertanggung membayar Rp.1 juta untuk mendapatkan Rp.1 milyar. Perbedaan nilai ini, dari Rp.1 juta menjadi Rp. 1 milyar, masuk dalam kategori riba, karena adanya pertambahan nilai dari transaksi (1:1.000).

Singkatnya, mekanisme yang terjadi adalah “transaksi” antara “premi” dan “klaim”. Karena sifatnya transaksi, sementara terjadi pertambahan “nilai” dari premi yang “kecil” untuk mendapatkan klaim yang “besar”, maka hal ini jatuh ke dalam kategori riba.

Lalu apakah tidak ada riba dalam asuransi syariah?

EHN - MEKANISME ASURANSI SYARIAH

Dari ilustrasi di atas, kita lihat bahwa sejak awal, para Peserta sudah mempunyai akad (perjanjian) dengan sesama Peserta lainnya, untuk saling menanggung (ta’min) dan berbagi risiko (risk sharing). Artinya apabila ada musibah yang diderita seorang Peserta, maka para Peserta lainnya bersepakat untuk menanggung bersama (takafuli) kerugian yang diderita Peserta tadi. Di sinilah asas gotong-royong (ta’awun) berlaku. Kemalangan yang diderita satu Peserta, ditanggung bersama oleh Peserta lainnya. Bentuk kesepakatan saling menanggung ini diwujudkan dalam bentuk kontribusi (donasi). Kontribusi ini dikumpulkan menjadi sebuah dana kebajikan. Seperti layaknya sebuah Koperasi, masing-masing Peserta sebenarnya adalah “pemilik” dana kebajikan.

Kumpulan dana kebajikan ini memerlukan pengelolaan, yang harus dilakukan secara profesional oleh para ahlinya. Untuk itu, di saat bersamaan, para Peserta juga membuat sebuah perjanjian dengan pihak lain yang ditunjuk sebagai pengelola dana kebajikan, yaitu sebuah Perusahaan Asuransi Syariah. Perusahaan Asuransi Syariah, bukanlah pemilik dana kebajikan, melainkan bertindak sebagai pengelola (fund manager).

Apabila, atas kehendak Yang Maha Kuasa, ada seorang Peserta yang mengalami musibah, maka adalah tugas dari Perusahaan Asuransi Syariah selaku Pengelola dana kebajikan, sebagai wakil dari para Peserta, untuk memberikan santunan (manfaat) kepada Peserta tadi, yang dananya diambil dari dana kebajikan. Pemberian santunan (manfaat) ini sebenarnya merupakan milik bersama para Peserta, bukan milik atau mengambil dana dari perusahaan asuransi syariah.

Semisal seorang Peserta menyerahkan dana kontribusi sebesar Rp.1 juta. Dana ini, bersama kontribusi dari Peserta-peserta lain dikumpulkan dan dikelola oleh Perusahaan Asuransi Syariah selaku pengelola dana kebajikan. Dalam hal terjadi kemalangan, maka dari dana kebajikan tersebut (bukan dari uang Perusahaan Asuransi Syariah) akan diberikan manfaat sebesar nilai kerugian yang dideritanya, sebut saja Rp.1 milyar.

Prinsipnya, manfaat yang diterima oleh seorang Peserta yang mengalami musibah adalah santunan dari Peserta lain. Jadi, sebagai seorang Peserta, selain ia bisa mendapatkan jaminan santunan bilamana ia mengalami musibah, ia sendiri juga bisa mempunyai kesempatan berbuat baik untuk membantu sesama Peserta yang mengalami musibah. Seandainya ini dipahami dengan baik, luar biasa nikmatnya asuransi syariah. Selain memberi manfaat, maslahah juga insya Allah berkah bagi semua pihak.

Singkatnya, asuransi syariah bukan sebuah transaksi antara Peserta dengan Perusahaan Asuransi Syariah, melainkan kesepakatan sesama Peserta untuk memberikan santunan kepada Peserta yang mengalami musibah, sehingga tidak ada unsur riba dalam hal ini.

Demikian pembahasan mengenai asuransi syariah yang bebas dari unsur riba. Tulisan berikutnya akan membahas sisi dan aspek lain asuransi syariah. Semoga bermanfaat.

SUMBER: http://www.kupasi.org/2016/04/17/mengenal-asuransi-syariah/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s