Menghitung Kebutuhan Asuransi Secara Islami

asuransisyariahPerkembangan asuransi khususnya asuransi jiwa di Indonesia masih sangat menyedihkan. Pernyataaan ini jauh berbeda dari pernyataan masyarakat yang berkecimpung di dunia asuransi yang menganggap asuransi di Indonesia sudah maju.

Mana yang dapat dikatakan maju? Dari sisi keagenan kita masih terbentur dengan terbatasnya agen-agen asuransi berkualitas. Belum lagi cara menjual mereka yang masih sangat konvensional dan sangat salesman. Hal tersebut terjadi karena keterbatasan pendidikan serta sertifikasi. Dari sisi produk pun masih terbatas pada produk unit link yang sosialisanya msaih banyak kesalahan.

Lalu, bagaimana dengan spirit Islami di negara berpenduduk agama Islam terbesar di dunia ini seiring dengan dikeluarkannya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai bunga yang dikatakan haram?

Secara Islami, asuransi konvensional tidak dapat dimasukan ke dalam kategori syariah karena cara pengelolaan dana mereka. Selain itu, terdapat dua unsur lain, yaitu unsur gharar  atau ketidakpastian dan unsur judi.

Jika ditilik lebih dalam, memang benar di dalam asuransi terdapat unsur gharar. Di dalam kontrak asuransi, akan ditemui unsur ketidakpastian dalam hal ganti rugi, waktu kontrak, dan ketidakpastian apaah nasabah akan mendapat kembali premi yang dibayarkan atau tidak.

Perdebatan akan bertambah panjang ketika membahas unsur perjudian. Asuransi konvensional mengatakan bahwa tidak terdapat unsur perjudian dikarenakan adanya “kepentingan asuransi” atau insurable interest. Lalu argumentasinya adalah bahwa asuransi dipergunakan untuk “mengganti” kerugian keuangan atau finansial yang diderita seseorang sehingga tidak terdapat unsur untung atau rugi.

Perkataan tersebut semua bersifat teori belaka. Pada penerapannya di lapangan, seorang agen asuransi jiwa tidak dapat menentukan dengan pasti berapa nilai kerugian minimum yang harus di-cover seseorang dan memberi tahu darimana mereka mendapatkan angka coverage (di auransi disebut juga nilai tunai).

Lalu bagaimana dengan asuransi Islami? Apakah asuransi ini dapat diperunakan terutama dalam perencanaan keuangan secara Islami (Islamic financial planning)? Meskipun sudah terdapat perusahaan asuransi yang menggunakan prinsip syariah, seperti Asuransi Syariah atau Takaful, tetapi pada dasarnya cara penjualan meraka belum Islami. Hal ini dikarenakan agen-agen penjual asuransi Islami tidak dapat dilepas dari hukum waris (faraid) untuk menentukan kebutuhan perlindungan atau coverage.

Di dalam penghitungan asuransi secara konvensional dikenal dengan metode penghitungan kebutuhan menggunakan rumus human live value (HLV), income based value (IBV), dan survival based value (SBV).

Metode ini sangat jarang digunakan oleh agen asuransi konvensional. Hampir semua agen asuransi konvensional menjual produk asuransi asuransi mereka bukan berdasarkan kebutuhan proteksi nasabah, melainkan berdasarkan kemampuan membayar premi dari nasabah.

Rumusan HLV, IBV, dan SBV dapat dipakai juga dalam menentukan keubutuhan asuransi secara Islami. Akan tetapi, yang lebih mendekati cara Islam (Islamic methodology) sebenarnya dengan menggunakan hukum faraid. Di dalam Al-Quran jelas sekali diatur tata cara pembagian harta warisan, yaitu menyebutkan bahwa istri berhak atas 1/8 dari harta waris, orangtua masing-masing berhak atas 1/6 dari harta waris, anak laki-laki mendapatkan 2/3, dan anak perempuan mendapatkan 1/3 dari harta waris.

Selain itu, Al-Quran juga menyebutkan minimum “bekal” atau dana yang harus dimiliki seorang istri yang ditinggalkan. Bagi kalian yang meninggal dunia dan meninggalkan janda haruslah memenuhi minimum satu tahun kebutuhan hidupnya dan tempat tinggalnya, tetapi jika dia meninggalkan tempat tinggal tersebut, tidak dapat disalahkan bagi kalian atas apa yang dilakukannya dan Allah Maha Mengetahui (QS Al-Baqarah [2] : 240).

Lalu bagaimana cara menghitung kebutuhan asuransi secara Islami? Anggap saja kebutuhan bulanan dari sang istri yang saat ini memiliki seorang anak adalah Rp 5 juta dan kebutuhan tempat tinggal Rp 3 juta sehingga total kebutuhan per bulan adalah Rp 8 juta. Untuk memenuhi kebutuhan minimum selama satu tahun seperti yang telah disebutkan dalam Al-Quran, seorang nasabah harus memiliki dana sebesar Rp 8 juta x 12 bulan = Rp 96 juta.

Harus diingat dana sebesar Rp 96 juta tersebut hanya untuk si istri yang mendapat “jatah” waris sebesar 1/8. Di dalam ilmu faraid dikatakan pula bahwa seorang istri yang tidak memiliki anak berhak atas 1/4 dari harta waris yang ditinggalkan oleh sang suami termasuk asuranasinya. Dan untuk istri yang memiliki anak, hak warisnya sebesari 1/8 dari harta yang ditinggalkan termasuk asuransi. Oleh sebab itu, penghitungan kebutuhan asuransi minimum untuk keluarga ini adalah Rp 96 juta x 8 = Rp 768 juta. Sangat mudah bukan? Sayang sekali ilmu dan tata cara penghtungan seperti ini belum banyak diketahui di Indonesia. Nah,setelah mengetahui minimum kebutuhan tersebut, barulah kita melakukan pemilihan produk asuransi yang sudah tentu harus Islami. Dan semoga apa yang kita inginkan dalam mencari ridha dan rahmat Allah dalam berasuransi dapat terkabul dan bisa berjalan dengan baik. Aamiin.

Oleh: Aidil Akbar Madjid, MBA, CFE, RFC. “Easy Planing: Hidup Sejahtera Sekarang dan Nanti”

Sumber: http://fusifoundation.org/kebutuhan-asuransi-secara-islami/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s