Bayar premi asuransi cuma 10 tahun, proteksinya sampai 99 tahun. Apa benar?

risk and insuranceBanyak sekali calon nasabah yang berdiskusi dengan saya dan meminta ilustrasi manfaat proteksi dari Tapro, separuh lebih pasti bertanya:  “berapa tahun saya harus bayar premi?”

Dan sudah menjadi kebiasaan saya bahwa saat memberikan ilustrasi asuransi jiwa Tapro, saya tidak pernah memberikan asumsi “lamanya masa bayar” atau istilah lainnya “cuti premi”.  Sehingga calon nasabah menerimanya sebagai “wah saya bayar premi seumur hidup, dong? Di tempat lain bayarnya cuma 10 tahun. Manfaatnya sampai seumur hidup.”

Jujur saja, faktanya masih ada juga (walau tidak banyak) yang menganggap bahwa berasuransi itu rugi.  Karena merasa bahwa: manfaatnya tidak dirasakan saat hidup atau tidak langsung dirasakan saat itu juga. Dan premi yang dibayar hangus alias gak balik. Sehingga, untuk membayar premi asuransi jiwa sampai bertahun-tahun, dirasa merugikan.

Dan fakta unik ini (yang merasa rugi berasuransi karena premi jadi uang hangus), dimanfaatkan oleh para oknum agen asuransi unit link membombardir nasabah dengan kata sakti “uang tidak hangus” begitu gencar. Padahal perbuatan memborbardir ini bisa sangat berbahaya karena dengan pemahaman seperti ini bisa menjadi miss persepsi dan ujung-ujungnya akan merugikan semua pihak yang berkaitan dengan asuransi, ya nasabah, agen, dan perusahaan.

Baiklah, saya coba bagikan informasi kembali, semoga bermanfaat untuk pembaca yang sedang mencari-cari informasi tentang asuransi jiwa dan cuti premi. Juga agar tidak terjadi miss persepsi lagi terhadap asuransi unit link  yang sudah kadung terjadi karena ulah oknum agen asuransi unit link.

Asuransi adalah proteksi, ibaratnya tabung pemadam kebakaran, anda beli tapi berharap tidak akan pernah pakai. Dan kalau tidak terpakai apa Anda ingin mengembalikan tabung pemadam tersebut dan diganti uang?? Dan prinsip dasarnya itu seperti asuransi mobil. Kita bayar sejumlah premi untuk jangka waktu proteksi tertentu. Selama masa proteksi berlaku, kita bisa melakukan klaim jika terjadi resiko. Jika masa proteksi selesai, selesai juga proteksinya. Dan uang hangus.

Namun jika kita tarik lebih jauh, sebenarnya istilah “uang hangus” ini tidaklah tepat. Lho, kenapa?? Karena hakikatnya berasuransi itu saling gotong royong membantu sesama peserta asuransi. Kalau kita terkena musibah kita mendapatkan santunan tersebut. Jika kita tidak pernah klaim, artinya kita patut bersyukur karena Tuhan menakdirkan kita sehat wal’afiat tanpa kekurangan satu pun. Dan lebih bersyukur lagi karena dengan uang yang kita kontribusikan melalui premi asuransi, kita telah bergotong rotong untuk membantu peserta lain yg terkena musibah.

Baca juga: Konsep gotong royong dan tolong menolong dalam asuransi.

Nah pada asuransi unitlink (dalam hal ini produk Tapro Allisya), selain proteksi juga ada unsur tabungan/investasi (nilai tunai yang terbentuk).  Tabungan/investasi ini sebenarnya hanyalah “bonus” saja.  Trus “bonus” ini buat apa? Buat membayar biaya asuransi  setelah “masa bayar”  berakhir. Misal masa bayar premi cuma 10 tahun. Maka setelah 10 tahun nasabah tetap membayar biaya asuransi yang akan dipotong dari hasil investasi yang dilakukan selama 10 tahun itu. Jadi gak gratis lho biaya asuransi itu, tetap hangus. Tapi karena terbantu fungsi investasi, seolah-olah tidak hangus. Hal ini penting banget untuk dipahami.

Bayar premi asuransi jiwa hanya 10 tahun adalah suatu pilihan, dengan asumsi: nilai tunainya cukup untuk membayarkan semua biaya asuransi di masa depan (di saat Anda tidak bayar lagi).  Fasilitas inilah yang disebut Cuti Premi.  Sejatinya cuti premi bersifat sementara, sebaiknya digunakan hanya disaat benar-benar sedang tidak bisa membayar premi.

Berikut alasan-alasan saya memberi ilustrasi asuransi jiwa Allisya Protection Plus atau Tapro Allisya dengan asumsi tanpa cuti premi (alias asumsi bayar premi seumur hidup):

1. Asumsi tidak sepenuhnya sesuai dengan rencana

Berapa banyak dari Anda yang beranggapan bahwa asuransi unit link itu adalah asuransi yang bisa bayar premi selama jangka waktu tertentu (misalnya 10, 15 atau 20 tahun) dan setelahnya tidak perlu membayar premi lagi? Menurut saya persepsi tersebut tidak sepenuhnya benar atau bisa dikatakan keliru. Karena jika nasabah berhenti bayar premi setelah jangka waktu tertentu (misalnya 10, 15 atau 20 tahun), maka nilai investasi yang terbentuk selama jangka waktu tertentu tersebut itulah yang akan melanjutkan bayar biaya asuransi supaya polis tetap aktif. Hal ini yang akan menyebabkan nilai investasi lama kelamaan akan berkurang, dan bisa juga menyebabkan polis menjadi lapse. Jangan kaget misalnya setelah bayar 10 tahun, misalnya di tahun ke 16 Anda disuruh top up agar polis terus aktif.

Selain itu, jika kita sudah memiliki cara pandang yang benar terhadap fungsi asuransi dan produk unit link ini. Dengan asumsi bayar premi terus, kita akan mempunyai kebiasaan untuk memantau atau mereview polis kita. Bagaimana kondisi nilai tunainya, bagaimana proteksi yang kita butuhkan, perlu ditambah atau tidak, dan lain-lain.

2. Premi lebih murah dengan asumsi tanpa cuti premi

Sebagai contoh untuk nasabah berusia 35 tahun mendapatkan manfaat UP Jiwa 1 Miliar, UP CI100 1 Miliar dan Payor Benefit. Jika asumsi tanpa cuti premi, maka premi perbulannya sebesar 1,5 juta. Namun jika asumsi cuti premi 10 tahun, maka premi perbulannya sebesar 2,2 jutaan selama 10 tahun (stop bayar premi setelah 10 tahun). Dan jika asumsi cuti premi 20 tahun (stop bayar premi setelah 20 tahun), maka premi perbulannya sebesar 1,6 jutaan. Dan seperti yang saya jelaskan di point 1 diatas, nasabah bisa berhenti bayar premi selama nilai investasi yang terbentuk cukup untuk bayar biaya asuransi.

3. Asumsi tanpa cuti premi pun bisa cuti premi

Seperti yang sudah dijelaskan di point 1 diatas bahwa pada asuransi unit link  premi yang dibayarkan oleh nasabah akan dibagi kedalam 2 komponen, yaitu proteksi dan investasi. Artinya selain nasabah mendapatkan manfaat proteksi berupa uang pertanggungan, nasabah pun mendapatkan nilai tunai yang sifatnya seperti tabungan dan bisa di cairkan. Dan inipun berlaku jika asumsi bayar premi tanpa pernah cuti premi. Misalnya seorang nasabah setor premi 1,5 juta perbulan tanpa asumsi cuti premi. Jika setelah 10, 15 atau 20 tahun nasabah tersebut ingin berhenti bayar premi, tentu saja bisa, asalkan nilai investasi yang terbentuk cukup untuk bayar biaya asuransi. Karena ketika nasabah memutuskan untuk berhenti bayar premi, maka nilai investasi yang terbentuk yang akan menggantikannya membayar biaya asuransi.

4. Investasi yang terbentuk sama seperti menabung

Karena pada asuransi unit link sebagian preminya di alokasikan untuk investasi, maka artinya sama juga nasabah seperti menabung. Ada nilai tunai yang terbentuk yang bisa cair meskipun tidak terjadi resiko meninggal dunia, sakit kritis, kecelakaan atau cacat tetap permanen. Biasanya orang menabung tidak pernah dibatasi oleh waktu. Sangat jarang sekali saya menemukan orang yang berencana untuk menabung hanya selama 10, 15 atau 20 tahun. Bahkan umumnya kita disarankan oleh orang tua kita untuk menabung sejak kecil.

Selain itu, umumnya orang menabung itu nominalnya selalu bertambah. Misalnya ketika kecil kita menabung 50 ribu setiap bulan, setelah beranjak dewasa seiring dengan uang jajan yang diterima semakin besar maka menabung pun menjadi semakin besar. Dan ketika sudah bekerja, nominal menabung pun menjadi bertambah seiring dengan penghasilan yang diperoleh.

Bedanya dengan asuransi unit link, menabung secara konvensional diatas tidak mendapatkan proteksi. Kita hanya mendapatkan nilai tunai yang sudah ditabung, dan bisa kita cairkan kapanpun juga jika ada keperluan. Sementara pada asuransi unit link, sangat tidak disarankan untuk menarik dana tunai yang terbentuk, kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak.

———-

Hal tersebut senada dengan informasi Bapak Didin Komara, Head of Product Offers Allianz Life Indonesia:

Seperti yang kita ketahui produk asuransi Unit Link adalah produk asuransi yang memberikan dua manfaat sekaligus dalam satu produk, yaitu proteksi dan investasi.

Oleh sebab itu maka premi yang dibayarkan oleh nasabah akan dialokasikan pada dua bagian yaitu biaya asuransi dan juga untuk dana investasi. Besaran alokasi ini juga ditentukan pada saat nasabah menentukan manfaat asuransi dan juga nilai investasi di awal pembelian asuransi. Pembayaran premi asuransi Unit Link dapat dilakukan secara bulanan maupun tahunan. Nasabah juga diberikan kesempatan untuk meningkatkan nilai investasi atau yang disebut dengan top up premi.

Namun tidak sedikit nasabah yang berasumsi bahwa asuransi Unit Link hanya perlu membayar premi selama 10 tahun dan setelahnya tidak perlu membayar premi lagi. Persepsi tersebut sebenarnya keliru, jika nasabah berhenti membayar premi maka biaya asuransi akan dipotong dari nilai investasi yang dimiliki.

Polis asuransi memang dapat tetap aktif dan manfaat perlindungan masih berjalan namun hasil investasi tentu saja tidak akan maksimal dan tentunya hasil investasi yang diharapkan tidak dapat tercapai.

Namun, pada produk Unit Link, perusahaan asuransi memberikan keleluasaan kepada nasabahnya dengan tidak membayar premi dalam kurun waktu tertentu atau disebut dengan cuti premi. Cuti premi ini biasanya terjadi apabila nasabah sedang mengalami masalah ekonomi atau dengan alasan lainnya. Yang perlu diingat adalah saat nasabah akan membayar preminya kembali, nasabah harus juga membayar premi dari biaya asuransi (perlindungan) yang tidak terbayarkan saat melakukan cuti premi. Jadi teruslah membayar premi agar perlindungan dapat berjalan dengan optimal dan hasil investasi pun akan maksimal.

Sumber:  http://jurnal.allianz.co.id/pages/mengapa-pembayaram-premi-asuransi-unit-link-dibayarkan-secara-rutin

Baca juga artikel lain di blog ini mengenai unit link, pembayaran, dan cuti preminya:

 *) Sumber utama artikel: http://proteksikita.com/2014/11/19/cuti-premi-asuransi-jiwa-allianz-haruskah/ dengan beberapa tambahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s