Asuransi Dibeli Saat Gak Butuh dan Gak Perlu Nunggu Momentum

5 sebelum 5Sedikit cerita. Banyak yang bertanya kepada saya tentang produk asuransi jiwa dan kesehatan yang saya jual. Lambat laun, sedikit banyak saya jadi paham maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Kadang ada yang memang tidak paham dan bertujuan benar benar membeli asuransi untuk antisipasi bila terjadi resiko di masa yang akan datang. Tapi tidak sedikit pula yang hendak mencari manfaat instan.  Seperti pertanyaan tentang Kondisi Kritis dan Pre-Existing Condition.

“Radar” saya kadang berjalan ketika ada yang bertanya detil, ingin manfaat besar dan seperti tergesa-gesa. Ketika komunikasi lebih lanjut, benar dugaan saya, bahwa si penanya atau orang tua/keluarga/famili-nya tersebut memiliki kondisi “tidak layak” untuk diasuransikan, atau dalam bahasa asuransinya tidak akan lolos dalam proses underwriting.

Cerita saya mungkin tidak mewakili gambaran umum di masyarakat. Tetapi statistik bisa berbicara lebih banyak. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2013 mencatat 17,84% atau hanya 18 orang dari 100 penduduk Indonesia yang mengerti manfaat asuransi. Tapi baru 11,81% atau 12 dari 100 orang membeli polis.  Sedikit saya menemukan, ketika masih muda masih bugar sehat walafiat, berpikir jauh tentang punya polis asuransi. Sebagian besar masyarakat, perlu ada faktor pemicu terlebih dahulu baru kemudian berpikir untuk memiliki asuransi. Faktor pemicu tersebut bisa datang dari pengalaman pribadi dan keluarganya atau bisa jadi pengalaman orang lain. Misal saat tetangga atau famili jatuh sakit dan terbantu karena asuransi, barulah tersadar untuk punya asuransi.  Ada juga yang setelah berkeluarga dan punya anak, baru kepikiran punya asuransi. Terakhir, saya menemukan seorang anak yang mencarikan produk askes untuk orang tuanya, dan kaget ketika sulit untuk bisa mendapatkan produk askesnya dikarenakan usia dan penyakit yang sudah diderita dan preminyajatuh mahal. Bagi yang bekerja, terkadang sangat mengandalkan proteksi asuransi dari instansi/perusahaan tempatnya bekerja, sehingga tidak terpikir untuk punya asuransi yang dibeli sendiri. Kagetnya di belakang, ketika sudah pensiun, baru mencari produk asuransi,

Asuransi itu produk yang unik. Umumnya kita membeli produk karena kita membutuhkan produk tersebut. Tapi asuransi dibeli ketika kita tidak butuh. Jika kita membeli produk asuransi saat butuh, perusahaan asuransi besar kemungkinan malah tidak akan mau menjualnya kepada kita.

Ya. Itu karena asuransi adalah produk yang dibeli untuk kebutuhan berjaga-jaga terhadap risiko yang mungkin terjadi, di mana terjadinya risiko tersebut dapat terganggu kondisi keuangan kita. Dengan ikut asuransi, gangguan finansial dapat ditanggulangi. Semakin muda, semakin baik.

Risiko yang mungkin terjadi dan dapat mengganggu kondisi keuangan antara lain sakit, kecelakaan, dan meninggal dunia. Khusus meninggal dunia, risiko keuangan diderita pihak yang ditinggalkan, utamanya jika yang meninggal dunia adalah sang pencari nafkah.

Nasihat bijak seorang tokoh terbesar sepanjang masa, Nabi Muhammad SAAW., berikut ini sangat patut direnungkan. Beliau bersabda, “Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima.

1. Kaya sebelum miskin
2. Sehat sebelum sakit
3. Lapang sebelum sempit
4. Muda sebelum tua
5. Hidup sebelum mati.”

Demikian.

Iklan

One response to “Asuransi Dibeli Saat Gak Butuh dan Gak Perlu Nunggu Momentum

  1. Ping-balik: Asuransi Di Usia 40 Tahun | Agen Asuransi Jiwa & Kesehatan Syariah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s