Unit Link, antara Investasi atau Proteksi

insurance-vs-investmentMasyarakat Indonesia saat ini sedikit demi sedikit mulai peduli akan fungsi asuransi untuk proteksi finansial. Meski masih tertinggal jauh dengan negara tetangga. Namun, ada kontroversi yang paling mencolok yaitu sorotan terhadap asuransi berjenis unit link. Asuransi ini merupakan produk perkembangan terkini, asuransi yang berkait dengan investasi. Selintas lalu, hal ini nampak menguntungkan. Akan tetapi dengan perkembangan informasi yang cepat. Terjadilah kubu pro dan kontra terhadap produk ini. Bagaimana kita sebagai masyarakat umum mencoba bersikap??

Perbandingan Asuransi Unit Link dengan Asuransi Tradisional

Mari kita contohkan dengan ilustrasi dibawah ini:

Pria 30 tahun, tidak merokok, karyawan middle management yang mampu menyisihkan dana sebesar Rp 525.000,00 perbulannya untuk perencanaan keuangan masa depannya. Dengan dana yang ada ini ia ingin memiliki proteksi jiwa sebesar Rp 1.5 Miliar. Produk mana yang harus dipilihnya?

PROTEKSI TERM LIFE + REKSADANA

TERM LIFE per tahunnya 4,5 jt dalam jangka 20 tahun dan (misalnya) premi boleh dibayar dengan menyicil bulanan menjadi Rp 375.000/bulan. Sisanya sebesar Rp 150.000/ bulan bisa diinvestasikan di reksadana saham dengan return bahkan hingga 25% per tahun.

Dengan asumsi sehat walafiat, premi 4.5 jt per tahunnya hangus dan di tahun ke 20 terbentuk dana sebesar Rp 351.523.000 pada reksadana (dengan asumsi returnnya 18%, return senilai ini supaya sama hitungannya dalam perbandingan dengan unit link). Pada usia 50 tahun, pria tersebut ingin melanjutkan term life nya hingga usia 70 tahun. Dengan asumsi sehat walafiat, jumlah premi per tahunnya yang harus dibayarkan pada asuransi term life menjadi lima kali lipat pada usia 51-70 tahun sebesar 22,5 jt per tahun. Pria tersebut mengambil dana investasinya di tahun ke 20 untuk membayar premi term life hingga usia 70 tahun, maka dapat dilihat pada usia 70 tahun dana investasinya menjadi Rp 5,133 M (Asumsi Return 18%).

PROTEKSI UNITLINK

Kasus yang sama berlaku sebagai perbandingan yang sebanding, pria 30 tahun tidak merokok, menginginkan proteksi jiwa sebesar Rp 1.5 M dengan dana Rp 525.000,00 per bulannya. Melalui asuransi A, didapatkan:

Pertanggungjawaban jiwa hingga 70 tahun sebesar 1.5M

Pertanggungjawaban jiwa 70-99 sebesar 500 juta

Masa pembayaran premi 20 tahun dengan premi dasar flat Rp 525.000,00 per bulan.

Di tahun ke 20 terbentuk nilai tunai sebesar Rp 299.000.000,00 (Asumsi Return 18%)

Pria tersebut tidak perlu membayar premi lagi apabila ingin melanjutkan proteksi jiwanya hingga 70 tahun, dia tidak perlu lagi membayar COI karena diambil dari nilai tunai yang ada. Asumsi bila dia tidak pernah mengambil dananya, maka di usia 70 tahun akan terbentuk nilai tunai Rp 5.685M (Asumsi Return 18%). Apabila pria tersebut panjang umur hingga lebih dari 70 tahun dan nilai tunai/investasi unit linknya bisa menutupi biaya-biaya yang timbul, maka dia masih punya “bonus” proteksi asuransi jiwa dengan UP 500 juta.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan

Pertama, premi termlife 4,5 juta per tahun atau jika boleh dicicil menjadi 375 ribu per bulan. Pertanyaannya, apa iya bisa dicicil 375 ribu per bulan? Kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Premi term life biasanya dibayar tahunan. Kalaupun bisa dibayar bulanan, premi 4,5 juta per tahun tidak jadi 375 ribu per bulan. Jadinya bisa 420-450 ribu per bulan, lebih mahal 12-20%. Jika premi termlife menjadi 420-450 ribu per bulan, tentunya hitung-hitungan di atas akan berubah lagi. Hal ini tentunya juga harus jadi pertimbangan. Terutama bagi kita yang menganggarkan budget secara bulanan.

*Baca juga: Cash is King.

Kedua. Ada yang bilang,”Dengan keuntungan return investasi unitlink, kita tidak perlu bayar premi lagi pada periode berikutnya karena diambil dari hasil investasi kita. Namun bagaimana bila pasar modal sedang kolaps dan hasil invetasi kita tidak mencukupi untuk membayar biaya asuransi/COI dan lainnya? biasanya kita akan diminta top up untuk menutupi kekurangan tersebut?” Betul memang, tapi pernyataan itu tidak sepenuhnya benar. Jika kondisi ekonomi tidak sehat, market sedang crash, bukan hanya unit link yang rugi; semua investasi juga rugi, reksadana ikut rugi,  dan asuransi murni pun dalam kondisi ektrim bahkan bisa mengalami gagal bayar klaim. Oleh karena itu, paling bagus adalah menganggap unit link sebagai produk asuransi, dimana kita membayar premi secara kontinu selama ingin punya proteksi. Trus jika seandainya dalam kondisi terburuk pun, berapa sih top up-nya? Ya sekedar untuk membayar biaya asuransi dan biaya administrasinya. Itu pun bisa lebih murah dari premi asuransi murni. Dan status polis asuransi unit link pun bisa berubah jadi polis asuransi termlife berjenis YRT (Yearly Renewable Term). Simpel.

*Baca juga: Bagaimana jika nilai investasi unit link hampir habis?  Dan mau tau cara mengubah unit link jadi term life? Sila kontak kami 🙂

Ketiga, Ketika bicara tentang produk asuransi, maka kita akan berbicara tentang proteksinya, bukan bertujuan untuk investasi. Persis seperti yang dikatakan para pakar financial planner bahwa asuransi itu bertujuan proteksi, sedangkan investasi lebih baik di tempat lain seperti reksadana atau emas batangan. Unit Link yang difungsikan sebagai asuransi pun tidak kalah bagus dalam memberikan proteksi jika dibandingkan dengan asuransi tradisional. Ditambah lagi fakta yang ada, rider-rider dalam unit link sangat bervariasi dan bagus-bagus. Hal ini menjadikan keunggulan bagi unit link. Dari segi “harga yang dibayarkan”, jika unit link ditambahkan rider yang lain bahkan preminya pun bisa sama dengan term life (kasih link ke pengalaman unit link). Penulis pun menemukan fakta, untuk usia 35 tahun ke atas, dengan UP yang sama, premi yang dibayarkan pun bisa sama antara unit link dan termlife. Menarik bukan?

*Baca juga:
Pengalaman mencari asuransi murni.
Tabel Perbandingan unit link dan term life.
Fungsi investasi dalam unit link.

Bagaimana para pembaca? Apakah sudah mendapat gambaran mengenai unit link? Tidak semua Unit Link itu buruk. Unit Link pun tidak kalah dengan asuransi murni jika difungsikan sebagai instrumen proteksi keuangan jangka panjang. Selain itu jika dibayarkan secara bulanan, bahkan unit link bisa mengalahkan termlife. Oleh karena itu, lebih baik kita cari tahu dan mengecek kebenarannya. Telitilah lebih jauh dan mendalam. Semoga kita bisa menjadi calon nasabah yang bijak memilih produk asuransi yang sesuai dengan kondisi dan keinginan masing-masing.

*Baca juga:
Investasi jangan di unit link, asuransi gak harus di termlife.
Jangan alergi dulu sama unit link ya..

Salam,

M. Ibnu Setiawan
HP/WA: 085726127497
BBM: 549A9A53
Admin blog: http://agenasuransisyariah.com
Referensi artikel: disadur dari berbagai sumber.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s